Tinggalkan komentar

“Bentar Update Status Dulu…”

Ilustrasi: Wahyu Kokkang - Koran Jawa Pos edisi Desember 2009

Gambar ini diambil tahun akhir 2009 silam, waktu itu lagi mulai booming Facebook. Ilustrasi di koran Jawa Pos tersebut cukup lucu dan ‘nyentil’, lucu karena si kakek masih saja getol update status meskipun sudah tanggal semua giginya, dan ‘nyentil’ karena bisa jadi dalam 40 atau 50 tahun kedepan kita seperti si kakek tersebut.

Situs jejaring sosial seperti Facebook memiliki daya tarik yang luar biasa, bahkan bagi mereka yang dewasa secara pemikiran. Kebanyakan orang cenderung lebih jujur ketika tidak ada orang lain, yang tadinya kejujuran hanya di teriakan di dalam hati, sekarang dituliskan di status update. Dan ketika berhadapan dengan monitor, keyboard dan mouse kita menjadi lebih ‘berani’ dalam berekspresi, karena benda mati tidak bisa menghakimi.

Akhirnya, update status menjadi ‘teman’ paling setia yang tidak pernah mengeluh ketika seseorang butuh tempat berkeluh kesah. Dan info notifikasi menjadi terasa lebih ‘nyata’ ketimbang reaksi fisik dari sebuah komunikasi tradisional, senyum setuju dan rasa kaget dapat diganti dengan Like this atau mungkin emoticon yang super lucu.

Sering saya jumpai mereka yang lebih sibuk ‘menyiksa’ handheld-nya ditengah kerumunan kenalan atau kerabat. Sepertinya interaksi virtual menjadi lebih mengasyikan ketimbang melihat senyum teman lama, atau mengamati ‘sumringah’-nya saudara yang baru punya momongan.

Memang, dengan teknologi kita bisa memangkas jarak dan waktu, namun tidak ada dalam dunia manusia yang namanya multi-tasking seperti pada CPU.

When you get some,  you lose some

Anda dapat menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam waktu yang lebih singkat dibanding orang-orang yang hidup sebelum teknologi tersebut diciptakan, namun ada nilai-nilai yang anda lewatkan yang ketika diulang ia tidak akan pernah sama seperti awal kejadiannya.

Dasar pemikiran ini lama-kelamaan mengendap dan akhirnya saya putuskan untuk menuangkannya dalam sebuah notes di Facebook, ini notes tersebut :

Suatu saat kita harus bertemu dan menjadi manusia

on Saturday, March 20, 2010 at 4:10pm

Ketika kehadiran mulai terkikis dan kehilangan gregetnya.

Informasi merupakan pencitraan dari kenyataan yang bermanfaat. Ia hanya mampu dinalar oleh akal manusia menggunakan indera, melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan fisik yang dapat di rasakan melalui sentuhan.

Indera menghasilkan sebuah “Kehadiran”, anda hadir karena saya dapat menatap mata anda, mendengar fluktuasi emosi suara anda, dari informasi tersebut saya tahu anda hadir.

Betapa pentingnya sebuah kehadiran, karena kehadiran melahirkan interaksi yang “manusiawi”, interaksi melahirkan kesadaran, kesadaran berbuah pemahaman, pemahaman seperti sebuah lilin yang baru menyala di tempat gelap, sebuah pencerahan, dan seperti sudah dapat kita tebak hasil akhir dari interaksi tersebut adalah perbuatan “nyata”.

Meskipun perbuatan disini merupakan hasil akhir, namun sebenarnya sebuah perbuatan yang didasari oleh pemahaman yang benar, ia tak akan pernah berakhir. “kenyataan” yang ia ciptakan akan menyalakan lilin-lilin ilmu dalam hati manusia-manusia yang berakal dan akan melahirkan kehadiran-kehadiran baru.
Mungkin ini yang dimaksud dengan ungkapan.
Manusia yang mampu berbuat baik dan kebaikannya diteruskan oleh generasi setelahnya bahkan setelah jasadnya menjadi satu dengan bumi, ia sesungguhnya Abadi.

Sebuah kehadiran memerlukan pengorbanan waktu, materi, energi, perhatian. Namun pengorbananlah yang membuat kehadiran menjadi berharga, membuat manusia menjadi berharga. Pengorbanan merupakan sebuah bukti bahwa manusia memang sesuai dengan niatnya. Perumpamaan yang menarik mungkin tentang Cinta,

“Nilai Cinta bukan hanya terletak pada ujaran, namun sejauh mana raga anda sejalan dengan jiwa dan ruh, mau berkorban demi sang kekasih.” (oleh karena itu jangan salah pilih kekasih🙂 ).

Segala kemudahan menyibukan orang-orang, sekarang hampir semua orang mampu melakukan banyak pekerjaan sekaligus. Bekerja, membaca berita, berkirim pesan dengan teman dan saudara, berbagi keasyikan kecil, berbagi ide, belanja, dan lain sebagainya. Namun pada akhirnya mereka harus memilih, akan hadir dimana?
Teknologi diciptakan untuk mempermudah kegiatan manusia. Apakah kemudahan selalu bermanfaat? saya rasa semua jawaban ada di benak masing-masing.

Kehadiran fisik sangat bermakna, dalam waktu manusia yang singkat ini. Kita harus memilih akan hadir dimana?

Teknologi tidak akan pernah mampu membangun atmosfer kehadiran fisik. Ia bermanfaat ketika kita mampu berlayar di samudranya, bukan tenggelam didalamnya.

Semoga dalam anugrah umur ini kita mampu benar-benar berjumpa Teman-teman facebook-ku…

03012010 Muslim Pribadi Muhammad

Menurut anda bacaan ini bermanfaat? Ada tambahan? Atau mungkin mencari jawaban lain? Tulis disini Ok (:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: