3 Komentar

Perlukah Indonesia memiliki PLTN, belajar dari tragedi Fukushima Daiichi?

Gempa 8.9 skala richter di Jepang yang menyebabkan gelombang tsunami setinggi 7 meter pada beberapa hari yang lalu memberikan dampak kerusakan luar biasa terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi di pulau Honshu. 33 persen energi listrik Jepang dipasok oleh 56 PLTN, Fukushima merupakan 1 dari 40 PLTN di pulau Honshu.

PLTN Fukushima pasca gempa 8.9

PLTN Fukushima pasca gempa. Gambar dari dailymail.co.uk

“PLTN yang meledak pada Jumat tergolong pembangkit generasi awal dari tipe boiling water reactor (BWR), yaitu reaktor yang menggunakan uap air untuk menggerakkan turbin. Pembangunannya selesai tahun 1970-an dengan masa pakai 40 tahun. Jadi, PLTN ini sudah di tahun akhir penggunaannya,” kata Ferhat Aziz, pakar teknik nuklir dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Kompas.com

16 maret 2011 kalau tidak salah ingat, saya sempat mencermati sebuah acara Apa Kabar Indonesia Malam di TvOne dengan tajuk Berkaitan nuklir Jepang akankah pemerintah indonesia melanjutkan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir? 3 nara sumber dari yang pro dan kontra pun didatangkan, Hudi Hastowo – Kepala BATAN, Sonny Keraf – Mantan Menteri Lingkungan Hidup dan satu pembicara lagi kalau tidak salah dari BAPETEN.

Ada satu logika yang menggelikan yang saya tangkap dari perdebatan ini, PLTN Fukushima pasca gempa mengalami beberapa ledakan dan terjadi kebocoran radiasi maka oleh karena itu Indonesia tidak perlu mewujudkan pembangunan PLTN.

Jika setiap kecelakaan menjadi alasan untuk menghambat atau menghentikan pemberdayaan teknologi untuk hajat hidup orang banyak, maka kita saat ini kita pasti masih berada di zaman batu.

Analogi sederhana dari logika tersebut, jumlah kecelakaan mobil di seluruh dunia telah menelan korban jutaan jiwa baik yang diakibatkan kelalaian manusia atau karena bencana alam, seharusnya seluruh manusia di muka bumi berhenti mengendarai mobil, pabrikan otomotif berhenti memproduksi kendaraan roda empat ini.

Namun pada kenyataannya sampai detik ini masih saja banyak orang yang mengendarainya, dan ribuan mobil diproduksi tiap bulannya. Apa yang terjadi jika kecelakaan Apollo 13 dijadikan alasan untuk menutup NASA?

Jangan gunakan pensil atau pena untuk menulis, anda tahu ada banyak korban anak kecil yang berlari dan tersandung sambil membawa pensil ditangannya, mereka tertusuk pensil dibagian tubuh yang bervariasi.

Kecelakaan seperti bencana alam bukan alasan yang tepat untuk menghentikan perkembangan umat manusia.

Manusia hanya mampu berbuat sebaik mungkin, jangan berdiam diri setiap ada kegagalan. Apakah anda duduk manis tidak akan bangkit selama-lamanya setelah jatuh tersandung? Hal lain serahkan pada Sang Pencipta Penjaga Alam Semesta. Semoga ketika berakhir hidup kita di dunia, hal terbaiklah yang telah kita perbuat.

Entah berada pada posisi pro atau kontra, setidaknya anda yakin dengan kebenaran yang anda usung, sebagai manusia merdeka.

Tambahan informasi dari berbagai sumber

Kapasitas listrik yang tersedia di Indonesia saat ini kira-kira sebesar 30.000 Mega Watt (MW). Jumlah tersebut baru bisa memenuhi kebutuhan 60 % wilayah di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan beberapa lembaga, di tahun 2025 diperkirakan kebutuhan listrik mencapai 100.000 MW. Berarti kekurangan pasokan listrik mencapai 70.000 MW. Bila menggunakan geothermal, makro hidropower, atau tenaga surya, angin & biomass pasokan tetap masih kurang. Kemungkinan yang bisa memenuhi adalah energi nuklir.

Untuk energi geothermal, jumlah pasokan listrik yang bisa dihasilkan adalah sekitar 27.000 MW. Sedangkan dari potensi sebesar itu hanya dapat terealisasi sekitar 9.000 MW. Untuk Makro Hidropower, potensi yang dimiliki adalah 75.000 MW dan realisasinya hanya 10.000 MW. Total dari gabungan kedua energi itu praktis hanya menghasilkan 19.000 MW atau masih ada kekurangan pasokan sekitar 50.000 MW. Jika menggunakan energi surya, untuk kapasitas 1.000 MW diperlukan area seluas 20 kilometer persegi. Satu panel surya berukuran satu meter persegi hanya menghasilkan 50 watt listrik yang daya outputnya tergantung pada paparan panas matahari yang stabil. Untuk biomassa, untuk bisa menghasilkan 1.000 MW diperlukan sekitar 300 kilometer persegi area. Sangat tidak efisien, karna kita butuh area yg luas untuk kebutuhan energi skala besar.

Satu unit PLTN bisa menghasilkan 1000 MW listrik, hanya memerlukan 2 kilometer persegi area. Namun harus didukung dengan persyaratan & perencanaan yang matang. Jadi tidak bisa juga dengan tiba-tiba kita membangun PLTN. Oleh karena itu kombinasi dari semua sumber energi tetap penting. Tinggal kita mengatur penggunaanya, mana yg akan dijadikan pemasok utama nantinya.

3 comments on “Perlukah Indonesia memiliki PLTN, belajar dari tragedi Fukushima Daiichi?

  1. Contoh konkrit di atas (mobil dan pensil) tidak pas jika dianalogikan dengan nuklir.
    Saya bukan anti PLTN, tetapi menurut saya pribadi, belum perlu lah dibangun PLTN, masih banyak energi lain yang bisa dimanfaatkan, seperti angin, air, arus laut, panas bumi, dll.
    Maksimalkan semua potensi itu dulu, kalau sudah mentok, baru boleh bicara pembangunan PLTN.
    Belajarlah dari fukushima.
    Yang perlu diperhatikan juga bukan cuma memikirkan membuat pembangkit energi, yang lebih penting adalah bagaimana kita menghemat energi itu.
    Pemerintah seharusnya lebih men sosialisasikan gaya hidup hemat ketimbang pusing-pusing memikirkan membuat energi.
    Saya sendiri orang elektronika yang terus berinovasi bagaimana membuat penghemat listrik dan membuat alat yang hemat listrik dan saya katakan SAY NO to PLTN (saat ini).

    • Tahapan yang cukup runut dan saya setuju,
      Seiring dengan pe-maksimalan energi alternatif (yang relatif mungkin aman), baik pengguna energi (masyarakat) produsen energi (PLN dan swasta) dan pembuat kebijakan perihal energi (pemerintah) mendukung langkah penghematan energi.

      Tantangannya adalah,

      1. Indikasi apa yang nantinya akan menunjukan bahwa usaha kita semua sudah maksimal dalam penggunaan sekaligus penghematan energi.
      2. Dengan trend meningkatnya jumlah penduduk, dan kebutuhan akan energi yang meningkat secara eksponensial, sampai kapan metoda tersebut dapat dipakai. Karena kita harus berfikir strategis tidak hanya untuk saat ini namun juga untuk hari esok.

      Energi yang murah dan berlimpah, meningkatkan dinamika masyarakat kearah yang lebih produktif, di berbagai bidang dan aspek kehidupan, dan pada gilirannya akan membuka jalan untuk diciptakannya teknologi-teknologi baru.

      Izinkan saya membuat analogi lagiūüėČ
      Komputer pada awal penciptaannya memiliki ukuran sebesar kamar, seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan teknologi lain yang diciptakan, ukuran komputer semakin mengecil menjadi seukuran lemari, Tv, koper, dan terakhir komputer seukuran sabun batangan yang dapat kita genggam smartphone. Tidak hanya dalam ukuran komputer berkembang, namun para ilmuwan juga menambahkan faktor keamanan dalam pengembangan komputer, seperti regulasi radiasi dan RoHS untuk limbah komputer yang aman terhadap lingkungan dan manusia, dan lain sebagainya.

      Saya membayangkan sebuah zaman dimana kendaraan lebih ramah lingkungan dan memiliki BBM yang mampu bertahan bertahun-tahun tanpa diisi ulang (kita harus berani bermimpi kan?)

      Saya sangat senang dan mendukung inovator seperti anda, yang tidak hanya berperan sebagai pengguna namun juga mencoba mengembangkannya menjadi lebih baik. Jika sebagian kecil (jangan kecil-kecil amat) masyarakat Indonesia memiliki semangat dan berlaku seperti anda Indonesia pasti bisa menjawab permasalahan krisis energi yang sedang dilandanya.

      Terima kasih atas komentarnya

      • Terima kasih juga pendapat Anda.
        Ya analogi Anda sekarang tepat (komputer semakin muda semakin kecil), jika dianalogikan dg energi, semakin kesini memang harus semakin simpel pembangkitnya.
        Dengan 1 PLTN mungkin sudah bisa menyamai beberapa PLT lain.
        Bagus juga jika ada pembangkit yang tidak perlu diisi ulang selama bertahun2, tapi, apakah nuklir itu benar2 ramah lingkungan?
        Belum lagi jika sudah bocor.
        Dan ditinjau dari segi pembuatan,operasional,perawatan dan nanti jika sudah tidak terpakai (ternyata biayanya juga cukup besar).
        Kalau saya tidak salah, beberapa negara malah tidak jadi membangun PLTN dan malah ada juga yang menyudahi penggunaan PLTN (dengan berbagai petimbangan dari mereka tentunya).
        Sebenarnya ada alternatif lain yang seperti PLTN (tidak perlu diisi ulang, tapi tetap bertahan selamanya).
        Saya sendiri pernah mengikuti pembangunan energi listrik hybrid (matahari dan angin).
        Mnurut saya itu benar2 ramah lingkungan, langgeng, dan tidak perlu pusing2 jika nantinya sudah tidak terpakai.
        Dan potensi itu sangat besar dan tepat jika diterapkan di Indonesia (negara tropis dengan matahari selama 1 tahun penuh dan negara kepulauan yang banyak pantai (angin)).
        Sekali lagi, saya bukannya anti PLTN, namun saya menghimbau kepada pemerintah dan pihak terkait supaya mininjau dan berpikir beberapa kali.
        Terima kasih.

Menurut anda bacaan ini bermanfaat? Ada tambahan? Atau mungkin mencari jawaban lain? Tulis disini Ok (:

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: